Siswa Bermasalah Bagi Saya adalah Suatu Peluang



      

Sehari-hari saya mengajar dan menangani siswa SMA, di usia remaja yang menurut Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.

Pada masa transisi menuju status dewasa tersebut banyak terjadi masalah yang dimunculkan yang sering kali mengganggu perkembangan remaja, adapun gangguan tersebut bisa masalah perkembangan psikis maupun perkembangan fisiknya. Dalam mengatasi permasalahan siswa, saya sebagai guru Bimbingan dan Konseling tidak akan pernah bisa membantu siswa dengan baik apabila tidak dibantu oleh rekan-rekan guru lain. Kerja sama dengan rekan guru, dukungan orang tua siswa yang bersangkutan serta kerja sama yang terjalin dengan baik dengan kepala sekolah, adalah hal-hal yang penting agar selalu berjalan dengan seimbang. Sebagaimana pada prinsipnya menangani masalah individu tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dari mana individu itu berasal.

Ketika siswa SMA menginjak remaja mengalami permasalahan dalam tugas perkembangannya, maka mereka selayaknya membutuhkan bantuan dan mendapatkan perhatian khusus karena perilaku serta tindakannya menunjukan gejala yang tidak diharapkan. Masalah siswa membolos, terlambat sekolah, putus dengan pacarnya, prestasinya menurun dan pergaulan tidak sehat adalah akibat yang dimunculkan oleh remaja karena kekurangpahaman orang tua dalam membimbing putra-putrinya. Orang tua adalah pemberi kontribusi terbesar dalam memperbaiki perilaku tersebut. Apabila orang tua tidak mau dengan penuh kesadarannya merubah sikapnya dalam mendidik dan memperhatikan anaknya untuk bekerjasama menyelesaikan permasalahan siswa dengan guru BK, maka permasalahan siswa akan terhambat. Sebaliknya orang tua yang mau berubah demi perbaikan perilaku siswa, akan sangat membantu proses penanganan siswa tersebut.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya ketika menangani siswa yang bermasalah disekolah. Saat itu siswa kami sering sekali terlambat ke sekolah dan membolos. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan data dari siswa bermasalah tersebut mulai dengan membangun raport, member layanan konsultasi siswa, konsultasi dengan guru mata pelajaran, observasi juga saya lakukan. Namun perkembangan siswa tersebut tetap saja tidak menimbulkan titik terang, siswa tetap saja terlambat bahkan membolos. Setiap kali saya memberikan motivasi dan semangat kepada siswa tersebut seakan hanya didengarkan sambil lalu saja, terbukti siswa tersebut tidak berubah. Saya kemudian menyimpulkan ini bukan masalah biasa yang dialami siswa. Saya harus mencari cara untuk menangani permasalahan ini. Tetapi cara apa lagi? Ternyata satu-satunya jalan yang belum saya tempuh adalah konsultasi dengan orang tua, dan tentu saja konsultasi dengan Tuhan. Yang terakhir ini adalah satu-satunya sumber inspirasi dan hikmat saya, karena tanpa adanya campur tangan Tuhan dalam menyelesaikan permasalah siswa entah bagaimana jadinya. Ternyata saya tidak salah, Tuhan memang memberi petunjuk. Saya menemukan titik terang, konsultasi dengan orang tua siswa ternyata member insight. Ibu dari siswa itu,menemukan bahwa sebagai ibu dia terlalu memanjakan dan kurang memantau anak di sekolah, dia merasa masalah terletak pada karakter anaknya yang keras kepala. Semua permintaan anak dituruti tanpa memperhatikan apakah anaknya bertanggung jawab atau tidak dengan permintaannya setelah dituruti, anak minta dibelikan notebook, ternyata dipakai untuk main game dan nonton film, sampai larut malam sehingga bangun kesiangan akibatnya sering terlambat ke sekolah. Kami kemudian terlibat dalam pembicaraan yang lebih dalam. Kedua orang tua menyadari bahwa merekalah yang harus lebih dulu berubah, jika ingin anaknya berubah. Saya berusaha meyakinkan mereka bahwa kesadaran akan hal ini adalah awal yang baik, dan kedua orang tua harus sungguh-sungguh untuk melakukannya. Hari-hari selanjutnya adalah mendorong orang tua untuk mendoakan anaknya dan keluarga serta mendorong mereka untuk konsisten melaksanakan niatnya untuk berubah.

Sangat menakjubkan seiring dengan perubahan dari orang tua. Siswa kami pun menunjukan perubahan yang lebih baik. Saya sangat bersyukur karena siswa tidak lagi terlambat sekolah dan membolos. Kedua orang tua merasa bersyukur dan berterimakasih karena mereka merasa telah belajar hal penting dan mendapatkan pengalaman berharga dari masalah ini.

Siswa bermasalah bagi saya adalan peluang. Peluang untuk belajar sesuatu dari masalah hidup yang mereka hadapi. Pengalaman mereka menghadapi masalah, baik atau buruk, selalu menjadi guru yang baik bagi saya.