BBM akan NAIK, TARAF HIDUP NAIK?



                Nasib kita dalam menjalani hidup tergantung diri kita sendiri, apakah kita mau merubah hidup kita semakin lebih baik, kebutuhan materi maupun rohani tercukupi bahkan berlimpah? Tentu semua orang ingin kebutuhan hidupnya terpenuhi. Permasalahan yang saat ini hangat dibicarakan oleh masyarakat dari golongan rakyat yang masih dibawah garis kemiskinan, sampai golongan pejabat konglomerat adalah masalah naiknya harga BBM yang telah menguasai hajat hidup orang banyak. BBM memang kebutuhan yang mau tidak mau semua orang pasti memanfaatkan untuk keperluan hidup sehari-hari. Harga BBM dari tahun ke tahun berangsung-angsur naik tetapi yang kesejahteraan sebagian besar masyarakat belum bisa naik taraf hidupnya yang bebas dari kemiskinan. Pernyataan itulah yang sering kita dengar dari banyak masyarakat yang ada dipedesaan sampai perkotaan. Media massa juga ternyata turut andil, dalam hal ini berita-berita dikoran, tayangan televisi dan internet dalam hal penyampaian informasi serta pemberitaan yang cenderung memaknai peristiwa kenaikan BBM sebagai suatu gejolak yang membuat masyarakat menjadi pesimis dan tidak punya harapan hidup lebih sejahtera. Entah apa tujuan media massa yang cenderung memaknai kenaikan BBM sebagai suatu peristiwa yang menakutkan, apakah media massa jujur dalam pemberitaan? atau untuk tujuan tertentu menaikkan oplah sekedar bisnis? Saya membayangkan apabila media massa terutama pemberitaan mengenai Kenaikan BBM berisi berita yang tetap memberikan semangat, optimis dan motivasi untuk tetap menjalani hidup lebih baik lagi, alangkah indahnya bila kita melihat yang positif dan membangun. Permasalahan yang kedua adalah sebagian besar dari kita adalah orang yang malas bekerja,malas berusaha, malas belajar dan malas untuk berdoa. Kemalasan adalah faktor utama yang menghalangi kita untuk sukses, sudah 32 tahun kita dimanja oleh berbagai fasilitas memadai, harga sembako murah dan BBM juga mudah dijangkau, seakan-akan mental kita dididik sebagai mental pengemis yang hanya meminta dan meminta tanpa usaha serta kerja keras.  Orang malas apabila mengalami perubahan dalam hidupnya dari hidup serba enak menjadi tidak enak, sering meminta dan diberi kemudian tiba-tiba tidak diberi atau merasa tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, gejala pertama yang muncul adalah mengeluh, kecewa,marah kemudian dilanjutkan aksi protes menyelahkan pihak lain. Apakah dengan begitu akan menyelesaikan masalah? Permasalahan ketiga adalah sikap apatis yaitu mementingkan kepentingan sendiri, selama diri kita masih tidak peduli dengan kehidupan orang lain,maka kesejahteraan hidup tidak akan tercapai. Dari hal-hal yang sepele, seperti para pengendara bermotor yang lewat trotoar yang merupakan hak pejalan kaki,merokok ditempat umum tanpa peduli orang yang disekitanya yang menutup hidup karena bau asap rokok sampai kasus-kasus korupsi yang melanda saat ini. Kenyataan itulah yang sampai saat ini dapat kita lihat, akibatnya semua orang rela melakukan segala cara untuk meraih apa yang diinginkan walaupun dengan perbuatan-perbuatan yang kurang terpuj.
                Bangsa Indonesia yang katanya krisis ekonomi ternyata kenyataan yang dapat kita lihat adalah tidak semua masyarakat terkena dampak itu, lihatlah di jalan sekarang penuh sesak oleh sepeda motor dan mobil-mobil baru, terbukti rakyat tidak miskin karena mampu membeli motor baru dan mobil baru yang harganya ratusan juta rupiah,pada liburan akhir pekan dipuncak jalanan padat merayap dan tempat wisata penuh, terbukti rakyat tidak miskin karena masih punya uang untuk rekreasi, menjamurnya keberadaan mall tidak saja dikota besar, saat ini mall mulai ada di kota-kota kecil. Mall menawarkan berbagai kemewahan  yang menggiurkan dan menggoda mata kita dari mulai kebutuhan rumah tangga,elektronik dan fashion semua lengkap dengan harga yang relatif tinggi,masyarakat kita terbukti konsumerisme tinggi untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu bermanfaat hanya karena agar tidak dikatakan ketinggalan jaman atau tidak gaptek, gengsi maka seseorang rela dengan cara apa saja untuk memenuhi kebutuhan itu. Konsumerisme ternyata telah membutakan mata hati kita yang sebenarnya kita tidak mampu menjadi dipaksa mampu untuk memenuhinya, akibatnya hutang bertambah kesejahteraan tidak tercapai.

Bersambung ...

Siswa Bermasalah Bagi Saya adalah Suatu Peluang


      Sehari-hari saya mengajar dan menangani siswa SMA, di usia remaja yang menurut Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.
       Pada masa transisi menuju status dewasa tersebut banyak terjadi masalah yang dimunculkan yang sering kali mengganggu perkembangan remaja, adapun gangguan tersebut bisa masalah perkembangan psikis maupun perkembangan fisiknya. Dalam mengatasi permasalahan siswa, saya sebagai guru Bimbingan dan Konseling tidak akan pernah bisa membantu siswa dengan baik apabila tidak dibantu oleh rekan-rekan guru lain. Kerja sama dengan rekan guru, dukungan orang tua siswa yang bersangkutan serta kerja sama yang terjalin dengan baik dengan kepala sekolah, adalah hal-hal yang penting agar selalu berjalan dengan seimbang. Sebagaimana pada prinsipnya menangani masalah individu tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dari mana individu itu berasal.
     Ketika siswa SMA menginjak remaja mengalami permasalahan dalam tugas perkembangannya, maka mereka selayaknya membutuhkan bantuan dan mendapatkan perhatian khusus karena perilaku serta tindakannya menunjukan gejala yang tidak diharapkan. Masalah siswa membolos, terlambat sekolah, putus dengan pacarnya, prestasinya menurun dan pergaulan tidak sehat adalah akibat yang dimunculkan oleh remaja karena kekurangpahaman orang tua dalam membimbing putra-putrinya. Orang tua adalah pemberi kontribusi terbesar dalam memperbaiki perilaku tersebut. Apabila orang tua tidak mau dengan penuh kesadarannya merubah sikapnya dalam mendidik dan memperhatikan anaknya untuk bekerjasama menyelesaikan permasalahan siswa dengan guru BK, maka permasalahan siswa akan terhambat. Sebaliknya orang tua yang mau berubah demi perbaikan perilaku siswa, akan sangat membantu proses penanganan siswa tersebut.
   Saya ingin menceritakan pengalaman saya ketika menangani siswa yang bermasalah disekolah. Saat itu siswa kami sering sekali terlambat ke sekolah dan membolos. Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengumpulkan data dari siswa bermasalah tersebut mulai dengan membangun raport, member layanan konsultasi siswa, konsultasi  dengan guru mata pelajaran, observasi juga saya lakukan. Namun perkembangan siswa tersebut tetap saja tidak menimbulkan titik terang, siswa tetap saja terlambat bahkan membolos. Setiap kali saya memberikan motivasi dan semangat kepada siswa tersebut seakan hanya didengarkan sambil lalu saja, terbukti siswa tersebut tidak berubah. Saya kemudian menyimpulkan ini bukan masalah biasa yang dialami siswa. Saya harus mencari cara untuk menangani permasalahan ini. Tetapi cara apa lagi? Ternyata satu-satunya jalan yang belum saya tempuh adalah konsultasi dengan orang tua, dan tentu saja konsultasi dengan Tuhan. Yang terakhir ini adalah satu-satunya  sumber inspirasi dan hikmat saya, karena tanpa adanya campur tangan Tuhan dalam menyelesaikan permasalah siswa entah bagaimana jadinya. Ternyata saya tidak salah, Tuhan memang memberi petunjuk. Saya menemukan titik terang, konsultasi dengan orang tua siswa ternyata member insight. Ibu dari siswa itu,menemukan bahwa sebagai ibu dia terlalu memanjakan dan kurang memantau anak di sekolah, dia merasa masalah terletak pada karakter anaknya yang keras kepala. Semua permintaan anak dituruti tanpa memperhatikan apakah anaknya bertanggung jawab atau tidak dengan permintaannya setelah dituruti, anak minta dibelikan notebook, ternyata dipakai untuk main game dan nonton film, sampai larut malam sehingga bangun kesiangan akibatnya sering terlambat ke sekolah. Kami kemudian terlibat dalam pembicaraan yang lebih dalam. Kedua orang tua menyadari bahwa merekalah yang harus lebih dulu berubah, jika ingin anaknya berubah. Saya berusaha meyakinkan mereka bahwa kesadaran akan hal ini adalah awal yang baik, dan kedua orang tua harus sungguh-sungguh untuk melakukannya. Hari-hari selanjutnya adalah mendorong orang tua untuk mendoakan anaknya dan keluarga serta mendorong mereka untuk konsisten melaksanakan niatnya untuk berubah.
     Sangat menakjubkan seiring dengan perubahan dari orang tua. Siswa kami pun menunjukan perubahan yang lebih baik. Saya sangat bersyukur karena siswa tidak lagi terlambat sekolah dan membolos. Kedua orang tua merasa bersyukur dan berterimakasih karena mereka merasa telah belajar hal penting dan mendapatkan pengalaman berharga dari masalah ini.
        Siswa bermasalah bagi saya adalan peluang. Peluang untuk belajar sesuatu dari masalah hidup yang mereka hadapi. Pengalaman mereka menghadapi masalah, baik atau buruk, selalu menjadi guru yang baik bagi saya.

KEMALASAN

oleh Andang


"Kemalasan", kita akrab dengan kata ini dari kecil sampai tua. Adapun bentuk dan sifat kemalasan itu bisa dijelaskan seperti di bawah ini:
Kemalasan yang dipicu oleh perubahan faktor eksternal. Philip G. Zimbardo, Scott, Foresman (1979) dalam bukunya Psychology & Life, ini bisa disebut kemalasan yang bentuknya "state" (keadaan). Seorang pengusaha akan mendadak malas berusaha ketika uang hasil usahanya selama raib ditipu orang. Seorang pelajar / mahasiswa akan mendadak malas ketika dosen / guru kesayangannya tidak lagi diberi tugas mengajar materi kesayangan. Banyak orang yang tiba-tiba malas saat isi dompetnya kosong. Umumnya, kemalasan yang bentuknya "state" ini bersifat sementara (temporer). 
Kemalasan yang timbul akibat irama mood. Mood adalah perubahan intensitas perasaan. Ada yang menyebutnya juga dengan istilah siklus kehidupan (life cycle). Kemalasan semacam ini umum dialami oleh hampir semua manusia. Orang yang paling giat pun terkadang menghadapi saat-saat yang membuatnya merasa malas. 
Kemalasan yang memang itu kita sendiri yang menciptakan. Kemalasan semacam ini bisa disebut "trait", bawaan. Bawaan di sini maksudnya kita yang menciptakan, kita yang memilih, kita sendiri yang menjadi penyebabnya. Kemalasan seperti ini sifatnya permanen, atau abadi. Selama kita tidak mengubahnya, selama itu pula kemalasan itu bertengger di dalam diri kita.

Penyebab Kemalasan Permanen

Tujuan hidup tidak jelas. Tujuan ini bisa berbentuk: apa yang ingin kita lakukan, apa yang ingin kita raih, apa yang ingin kita miliki. Ada yang bersifat jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang. 
Filsafat hidup yang negatif.  Misalnya: "Daripada sudah bekerja keras tetapi tidak kaya-kaya, mendingan kerja asal-asalan aja", "Ngapain sekolah rajin, toh sudah banyak sarjana yang nganggur", "Boro-boro cari kerja yang halal, yang haram aja susahnya minta ampun", dan lain-lain dan seterusnya. 
Terlalu banyak dan terlalu lama membiarkan pikiran atau perasaan negatif, misalnya: saya tidak mampu, saya tidak bisa, saya selalu minder, saya ragu-ragu, saya malas-malasan, saya tidak bahagia dengan diri saya, dan seterusnya. 
Tidak mau memilih yang positif. Gagal bercinta, gagal usaha, gagal berkarir, dan lain-lain, memang itu semua bisa memicu kemalasan. Tetapi, seperti yang sudah kita singgung, kemasalan di situ sifatnya hanya sementara. Yang kerap membuatnya permanen adalah penolakan untuk segera bangkit. Jika kita menolak membangkitkan-diri, semua kemalasan sifatnya permanen Jika kita tetap memilih menjadi pemalas, maka tidak ada kekuatan apapun yang bisa membuat kita menjadi tidak malas. Kalau kita sadar tanggung jawab kita sebagai pelajar / mahasiswa, rasanya tidak mungkin kita bisa menjadi pelajar yang malas. Kalau kita sadar tanggung jawab kita sebagai karyawan, rasanya tidak mungkin kita bisa menjadi karyawan yang malas. Kesadaran inilah yang memunculkan motivasi dan komitmen intrinsik (inisiatif dan tekad dari dalam). 
Kurang belajar menggunakan ledakan emosi. Marah, tidak puas, malu, takut, ingin dipuji,adalah termasuk bentuk ledakan emosi. Ini bisa kita gunakan untuk mengusir kemalasan dan bisa pula kita gunakan untuk menambah kemalasan. Takut akan dimarahi orangtua kalau nilai kita jeblok dapat kita gunakan untuk memacu diri dalam belajar. Malu dikatakan orang pengangguran bisa kita gunakan untuk memperbanyak aktivitas. Tidak puas atas nasib kita pada hari ini dapat kita gunakan untuk mendorong perubahan.

Fondasi Personal

Penyebab dan pemicu kemalasan itu kalau dicari banyak (tak terhitung jumlahnya). Apalagi jika yang kita cari itu adalah sebab eksternal di luar diri kita. Meski demikian, yang akan menjadi kunci utama di sini adalah tetap diri kita. Inilah alasan kenapa kita perlu membangun fondasi itu. Fondasi personal adalah seperangkat dasar-dasar hidup yang kita gunakan sebagai landasan dalam melangkah. Dengan fondasi yang kuat ini diharapkan hidup kita tidak mudah goyah atau ambruk oleh hal-hal yang tidak kita inginkan.Hal-hal yang diperlukan untuk membangun fondasi personal adalah sebagai berikut :

  • Menjaga stabilitas. Agar stabilitasnya terjaga, maka harus digerakkan, dijalankan atau dinaiki dengan cara membangun sasaran dan program.
  • Perlu melakukan alignment. Pengertian dasarnya adalah upaya untuk meluruskan langkah agar tidak keluar dari track, rel, sasaran, target, tujuan, visi, misi dan seterusnya.
  • Perlu memiliki personal-urgency. Urgency di sini desakan ke dalam atau semacam deadline yang kita buat sendiri untuk diri kita (personal-impose).
  • Perlu pembelajaran yang terus menerus (continuous learning). Pembelajaran itu artinya memperbaiki diri dari apa yang kita lakukan.
  • Membuka diri terhadap berbagai pencerahan atau sesuatu yang bisa meng-inspirasi, memotivasi, membersihkan kotoran batin dan menghidupkan pikiran. Misalnya, membaca buku atau artikel, mendengarkan ceramah atau cerita orang, melihat kejadian, berwisata yang mendidik.
  •  

     
     

Tes Bakat Skolastik

Tes Bakat Skolastik (TBS) adalah sebuah tes yang bertujuan  untuk mengetahui bakat dan kemampuan seseorang di bidang keilmuan. Tes ini juga dapat mencerminkan tingkat kecerdasan intelektual (IQ) seseorang. Tes bakat skolastik ini sebenarnya adalah adopsi dari tes SAT (Scholastic Aptitude Test) yang sudah menjadi standar ujian masuk Perguruan Tinggi di Amerika dan dunia. Di Indonesia, tes ini telah menjadi salah satu tes standar ujian masuk Perguruan Tinggi maupun tes penyaringan untuk keperluan lainnya.
Adapun, Tes bakat skolastik ini umumnya memiliki empat jenis soal. Yaitu, tes verbal atau bahasa, tes numerik atau angka, tes logika, dan tes spasial atau gambar.
Tes bahasa berfungsi untuk mengukur kemampuan seseorang di bidang kata dan bahasa. Tes ini meliputi tes sinonim (persamaan kata), tes antonim (lawan kata), tes padanan hubungan kata, dan tes pengelompokan kata.
Tes angka berfungsi mengukur kemampuan seseorang di bidang angka, dalam rangka berpikir terstruktur dan logis matematis. Tes ini meliputi tes aritmetik (hitungan), tes seri angka, tes seri huruf, tes logika angka dan tes angka dalam cerita.
Tes logika berfungsi mengukur kemampuan seseorang dalam penalaran dan pemecahan persoalan secara logis atau masuk akal. Tes logika ini meliputi tes logika umum, tes analisa pernyataan dan kesimpulan (silogisme), tes logika cerita dan tes logika diagram.
Sedangkan tes spasial atau tes gambar, berfungsi mengukur daya logika (imajinasi) ruang yang dimiliki seseorang. Tes ini terdiri dari tes padanan hubungan gambar, tes seri gambar, tes pengelompokan gambar, tes bayangan gambar dan tes identifikasi gambar.